Deskripsi Buku
Judul:
MELAMPAUI BATAS TRADISI:
Inovasi Pedagogis dalam
Pembelajaran Bahasa,
Sastra dan Literasi Baru
(Kumpulan Esai Pedagogi Bahasa & Sastra)
Ukuran Buku: 15,5 x 23 cm
Jumlah Halaman: xvi + 320
Penulis:
Albitar Septian S., Andi Widiono,
Anggoro Abiyyu Ristio Cahyo, Cicik Arista,
Danang Wijoyanto, Henry Trias Puguh Jatmiko,
Isnaeni Khurniya Falakhiya, Khoirul Muttaqin,
M. Iqbal Tawakkal, Ninik Mardiana, Rizky Abrian,
Sakrim, Sri Wahyuningsih, Yohan Susilo,
Yusril Ihza Fauzul Azhim
Editor:
Prof. Dr. DJodjok Soepardjo, M. LITT.
Desain Sampul dan Tataletak: Fadhilla
Penerbit: DELIMA, Surabaya
Cetakan Pertama, Januari 2026
Tentang buku ini:
Tema besar harmoni pedagogi kritis yang menjadi benang merah buku ini bukan sekadar jargon metodologis. Ia adalah sikap berpikir. Sebuah cara memandang pendidikan sebagai ruang dialog, antara teori dan praktik, antara teks dan konteks, antara tradisi dan inovasi. Para penulis dalam buku ini, dengan latar disiplin, bahasa, dan objek kajian yang beragam, menunjukkan bahwa pedagogi kritis tidak identik dengan perlawanan yang gaduh, melainkan dengan kesadaran reflektif yang mendalam.
Tulisan-tulisan awal dalam buku ini mengajak pembaca untuk meninjau ulang fondasi pedagogi kritis itu sendiri. Bagaimana harmonisasi menjadi kunci agar pendekatan kritis tidak jatuh pada dogmatisme baru. Dari sana, pembaca diajak menelusuri transformasi praktik pembelajaran, dari pendekatan mekanistik menuju model integratif yang lebih kontekstual, baik dalam pengajaran tata bahasa Jepang, pembelajaran tembang macapat, maupun dalam pengembangan kompetensi interkultural.
Beberapa artikel secara khusus menyoroti pentingnya diferensiasi, andragogi, dan translanguaging sebagai bentuk penghormatan terhadap pengalaman, latar budaya, dan identitas bahasa peserta didik. Di sini, pembelajaran tidak lagi dipahami sebagai proses penyeragaman, melainkan sebagai upaya merawat keragaman tanpa kehilangan arah normatif dan akademik.
Dimensi budaya mendapat porsi yang kuat dalam buku ini. Representasi nilai-nilai budaya Jawa, Jepang, Jerman, hingga praktik lintas bahasa dalam konteks BIPA dan media digital, menunjukkan bahwa bahasa selalu membawa dunia makna di dalamnya. Melalui kajian terhadap buku teks, sastra klasik, media sosial, hingga ekspresi budaya populer, para penulis memperlihatkan bagaimana pendidikan bahasa dapat menjadi ruang pembentukan kesadaran lintas budaya yang etis dan reflektif—terutama bagi generasi Z yang hidup dalam arus komunikasi global.

