Buku Referensi Delima Terbaru

MANUNGGALING KAWULA GUSTI (Pembacaan atas Teks Suluk Sida Nglamong) – Jack Parmin

Deskripsi Buku
Judul: Manunggaling
Kawula Gusti (Pembacaan atas Teks
Suluk Sida Nglamong)
Penulis: Jack Parmin
Ukuran: 14 x 20 cm
Jumlah Halaman: xii+288
Penerbit: Delima

Penelitian ini mengambil objek salah satu jenis naskah suluk, yaitu Suluk Sida Nglamong (SSN). Jenis sastra suluk ini berkembang pesat setelah masuknya Islam ke Jawa sejak abad ke-16 dan baru tersebar pada masa pemerintahan Sultan Agung pada abad ke-17 dan menjadi sarana yang tepat untuk penyebaran agama (Islam). SSN ini berbentuk tembang macapat, yang merupakan salah satu jenis puisi dalam sastra Jawa.
Berdasarkan inventarisasi melalui katalog-katalog, penulis berhasil menginventarisasi sebanyak tujuh buah naskah SSN, yaitu NR 179 (PR 75), NR 132 (PW 132), NR 96 (PW 157), NR 189 (PW 181), 57 (33010), SB 77 (P 49), dan SB 82 (P 50). Kenyataan menunjukkan bahwa dari ketujuh naskah tersebut di samping adanya persamaan-persamaan juga menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan. Permasalahan yang muncul adalah manakah di antara ketujuh naskah tersebut yang merupakan naskah yang dianggap mendekati asli atau yang autoritatif. Melalui perbandingan isi, jenis dan jumlah pupuh, jumlah bait serta bacaan naskah, akhirnya ketujuh naskah tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok. Satu naskah yakni SB 82 (P 50) dieliminasi karena hanya merupakan kutipan dan tidak diikutkan dalam pengelompokan naskah. Berdasarkan pengelompokan ini diketahui bahwa kelompok yang terdiri atas naskah NR 345 (PW 132), 57 (33010), dan SB 77 (P 49) merupakan kelompok naskah yang autoritatif yang dijadikan dasar suntingan teks. Penyuntingan teks menggunakan metode landasan dengan menggunakan naskah 57 (33010) sebagai teks dasar.
Di samping suntingan teks, juga dideskripsikan ejaan naskah, bahasa naskah, bentuk dan isi, kedudukan sastra suluk SSN dalam sastra Jawa, serta fungsi SSN bagi masyarakat pendukungnya. Dari segi ejaan, SSN tidak banyak menunjukkan perbedaan-perbedaan dari kaidah yang berlaku dalam bahasa Jawa Baru. Bahasanya terdapat adanya pengaruh prosodi, ungkapan tradisional, pengaruh bahasa asing, seta hubungan berdasarkan baris-baris yang terdiri atas hubungan berdasarkan struktur kata, hubungan konstruksi lengkap dan elips, serta hubungan berdasarkan struktur yang sama. Teks SSN ini berbentuk tembang macapat dengan menerapkan konvensi yang berlaku bagi tembang macapat, yakni guru gatra (jumlah larik/baris dalam bait), guru wilangan (jumlah suku kata dalam larik/baris), dan guru lagu (bunyi suku kata pada akhir larik/baris). Secara umum teks suluk adalah teks sastra yang bernafaskan Islam, maka SSN juga berisi tentang hal itu terutama tentang konsep manunggaling kawula gusti. Dalam sastra Jawa kedudukan sastra suluk sangat penting yang dilihat dari segi jenisnya, kemunculan (kelahiran), bentuk, isi, maupun bahasa yang dipergunakan. Teks ini berfungsi religi/keagamaan dan dedaktik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *