Delima Terbaru Kumpulan Puisi

SULUK PANGRACUTAN dari KAMPUNG PARA ARWAH (Kumpulan Puisi) – Tjahjono Widarmanto

Deskripsi Buku:

Judul: Kumpulan Puisi- SULUK PANGRACUTAN dari KAMPUNG PARA ARWAH

Penulis: Tjahjono Widarmanto

Ukuran Buku: 14,5 x 21 cm

Jumlah Halaman: x + 105

Penerbit: Delima

Buku puisi ini berisi 51 judul puisi Tjahjono Widarmanto, yang ditulis dalam kisaran tahun 2021-2022. Tema puisi yang diangkat dalam buku ini meliputi maut, dunia arwah, dan hal-hal mistis lainnya.

PENGANTAR

Puisi tidak selalu hal-hal yang menyenangkan. Puisi kadang hadir secara tiba-tiba melampaui kuasa penyairnya. Meledak begitu tiba-tiba. Misteri acapkali menjadi momen putika yang memantik kelahiran puisi. Seperti manusia lain, penyair selalu berhadap-hadapan dengan berbagai misteri yang meledak dalam perjalanan hidupnya, termasuk di dalamnya: derita dan maut.. Penyair tak akan sanggup mengendalikan ledakan-ledakkan itu, apalagi menghentikannya. Ia hanya bisa mencipta ulang misteri tersebut dengan tafsir makna menurut dirinya sendiri. Ia hanya bisa membungkus dan membingkiskan momen tersebut melalui diksi dan eksplorasi bahasa agar ‘ledakan-ledakan’ tersebut bisa dirasakan dan dihayati oleh pembacanya.
Ledakan-ledakan misteri derita dan maut itu tetap saja menjadi rahasia, pun bagi pembaca saat membacanya. Acap kali diksi dan bahasa memasuki diri penyair bersamaan dengan ledakan-ledakan itu dalam dirinya. Datang begitu saja, berlimpahan, berjejalan, kadang halus seperti hembusan angin menyusup di jendela. Tak sedkit yang berduyun-duyun datang dengan penuh hiruk pikuk. Ada yang tiba-tiba mengedor-gedor sambil menghardik. Kadang seperti mimpi yang harus ditafsir, bahkan bisa sebagai slide peristiwa-peristiwa. Diksi dan bahasa yang berduyun itu semacam riak ombak yang menciumi pantai. Segala diksi dan bahasa yang datang itu tentu saja tergantung pada pembedaharaan dan keterbacaan penyairnya. Tak mungkin ruang kosong mampu menampung limpahan riak ombak yang berduyun-duyun itu.
Menulis puisi tidaklah selalu menuliskan hal-hal yang membahagiakan. Puisi bisa saja adalah hantu, kuntilanak, atau genderuwo yang menggendong segala hal ikhwal takut yang cemas. Puisi tak selalu hadir di pagi yang girang, melainkan bisa sebagai orkesta malam yang larut dan ngambang dalam derita. Ia derita dengan sedikit cinta. Ibu segala tragedi, ayah segala petaka dunia. Pun, saudara kembar segala rupa kejut, kecut, sangsi, serta busuk yang murung. Ia adalah bejana edan yang menampung tubuh sial. Penampung segala tinja untuk meludahi seluruh suka cita. Bukan sarang jiwa yang dengan segala lembut mengharap dan berharap cinta serta pinta disematkan. Bukan! Ia adalah penghardik sekaligus pemanggil derita, segala sakit, dan kejut dan menggendongnya pergi ke segenap mata angin. Persis peti mati penyimpan jasad yang dimummikan tanpa roh.
Pendek kata, puisi adalah arwah gentayangan yang menghardik kita! Itulah antologi ini: Suluk Pangracutan dari Kampung Para Arwah. Nikmati, hardikannya!

Ngawi, Agustus 2022

Tjahjono Widarmanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *