Delima Terbaru

17-an Di Kampung Halaman (Kitab Puisi Tiga Baris) oleh Tengsoe Tjahjono

Deskripsi Buku

Judul: 17-an di Kampung Halaman
(Kitab Puisi Tiga Baris)

Penulis: Tengsoe Tjahjono
Penerbit: DELIMA, Surabaya
Cetakan pertama, Agustus 2024

Jumlah Halaman: x + 116 Halaman
Harga buku: 47.000,00

Tentang Buku Ini:

Setiap 17 Agustus seluruh rakyat Indonesia gegap gempita merayakan hari kemerdekaan negaranya. Segala macam pesta, lomba, karnaval, upacara bendera, malam tirakatan, dan sebagainya diselenggarakan sebelum, sesaat, dan sesudah tanggal tersebut. Pesan-pesan heroik dan harapan-harapan akan masa depan bangsa selalu dikumandangkan di mana-mana, di segala perhelatan dan upacara.Tetapi, merayakan kemerdekaan tidak terbatas hanya melalui upacara, pesta, dan lomba-lomba. William Faulkner, seorang penulis Amerika, mengatakan, “We must be free not because we claim freedom, but because we practice it.” Kita merdeka bukan karena kita menyatakan bahwa kita merdeka, namun bagaimana mempraktikkan kemerdekaan itu. Tentu dengan cinta, kerja, dan karya. Atas dasar itulah saya ingin merefleksikan pengalaman saya sebagai bagian dari bangsa yang merdeka melalui puisi. Apakah praktik-praktik kemerdekaan itu sudah saya jalankan. Saya sudah menjadi bangsa merdeka, namun saya malas berkarya, datang terlambat dan pulang cepat di kantor, hidup dari gaji buta, tumpul hati, hilang rasa simpati, empati, dan jiwa solidaritas. Saya belum bisa mempraktikkan kemerdekaan itu. Padahal, sebagai bangsa merdeka justru kita harus siap bekerja keras mengisi kemerdekaan itu. Thomas Paine, seorang penulis Inggris, berucap, “Those who expect to reap the blessings of freedom, must, like me, undergo the fatigue of supporting it.” Siapa pun yang mengharapkan rahmat kemerdekaan, harus siap berlelah-lelah mendukungnya. Tidak boleh hanya duduk bertopang dagu, bermalas-malasan. Bekerja keras, tidak culas, serta tidak menjarah aset bangsa dan tanah air adalah mentalitas yang harus dipunyai warga dari sebuah bangsa besar.Melalui puisi yang terhimpun dalam Kitab Puisi Tiga Baris “17-an di Kampung Halaman” ini saya tidak ingin bergenit-genit dalam euforia kemerdekaan. Saya tidak ingin terjebak dalam romantisme semu. Banyak hal yang harus diperbaiki dari sikap kita dalam menjalankan praktik kemerdekaan. Tentu perubahan itu harus dimulai dari pribadi saya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *