Delima Terbaru Kumpulan Puisi

Aku adalah Rumah-Veer Lado-Kumpulan Puisi

Deskripsi Buku
Judul: Aku adalah Rumah
Ukuran : 14x 20 cm
Jumlah hlm : xvi + 96
Penulis: Veer Lado
Editor: Yosi Fernandez
Penerbit: Delima

Buku ini diawali dengan puisi berjudul, ‘tak ada kabar’ dan ditutup dengan puisi “selesai”. Penulis tentu beralasan, mengapa ia menyusun antologi ini dengan susunan demikian. Bagi saya perihal menanti kabar di era revolusi teknologi informasi ini, rasanya tidak lagi relevan sebab kabar seseorang bisa ditagih melalui pelbagai media. Kalau penulis puisi masih menanti kabar, itu pertanda bahwa dengan teknologi secanggih apa pun, kabar itu tak bisa ditunai sebab yang memberi kabar sudah berada dalam dimensi lain. Dengan demikian, bukan teknologinya yang kita permasalahkan, bukan pemberi kabar yang kita tunggu. Kitalah yang harus mengubah arah layar perahu, menggeser cadik ke arah yang lain dengan hati lapang – biarkan bumi dan langit bekerja dengan cara mereka – itulah makna kata ‘selesai’.
Dalam pandangan saya, kekuatan puisi ini tampak dalam pergumulan batin penulis yang tersusun menjadi seperti satu rangkaian kisah. Saya sebagai pembaca, tidak lagi menganggap puisi-puisi itu otonom, tetapi mereka dibaca dan dimaknai dalam relasi dengan puisi-puisi lain. Pandangan ini bisa saja berbeda dengan kehendak penulis puisi sebab setiap puisi memang lahir dalam konteks dan pengalaman yang berbeda, tetapi ketika ia diletakkan dalam satu antologi, mereka bisa dimaknai dalam satu jejaring relasi. Sebagai contoh, puisi berjudul ‘andai aku tahu’ dan ‘pada rinai hujan’ bukankah dua puisi ini bersahut-sahutan? Puisi yang satu mengungkapkan penyesalan dengan dampak pada kematian jiwa – ada anasir ‘hujan’ di sana. Atau puisi berjudul ‘aku adalah rumah’. Puisi ini boleh disebut sebagai puncak refleksi penulis sesudah puisi-puisi sebelumnya yang menuturkan satu dialog yang intim dengan Tuhan (baca puisi: ‘Tuhan tak menyesal’, ‘bolehkah aku memohon?’, ‘kala engkau dielu-elukan’, ‘Tuhan tak menyesal?’)
Membaca puisi dalam satu jejaring relasi, itu satu pilihan. Pembaca bisa memilih caranya sendiri, ruang itu terbuka labar, sebagai contoh, dalam antologi puisi ini, Veer tidak menyebut pemilik nama yang ia sapa sebagai – kau, kamu, engkau, kekasih dan subjek yang terlibat dalam kebersamaan dengannya – kita. Gaya menulis ini, memberi ruang bagi siapa saja untuk mengisi posisi tersebut dengan mencantumkan namanya sendiri atau orang lain. Selamat membaca!

Bill Halan
Dosen Luar Biasa di Universitas Ciputra Surabaya dan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Tentang Penulis:

VEER LADO lahir pada 17 September 1995 di Oja – Ende – Flores. Sejak tahun 2016 hingga saat ini menetap di Bekasi – Jawa Barat dan juga sedang menyelesaikan Pendidikan di Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. Baginya menulis adalah terapi untuk kesembuhan batin dan juga merupakan hobi sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia telah menerbitkan tiga buku kumpulan puisi – Nyanyian Rindu Sang Musafir (Penerbit Kuncup, 2020) untuk mengenang 20 tahun kepergian sang ayah, Meski Sayapmu Telah Patah (Penerbit Tankali, 2020) dan Sebait Sajak untuk Mama (Penerbit Tankali, 2021) sebagai kado ulang tahun untuk wanita yang sudah melahirkan juga membesarkannya. Veer Lado bisa dihubungi di akun Facebook: Veer Lado dan Instagram: @veer_lado.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *