Delima Terbaru Kumpulan Esai

47 Ronin Tersenyum di Langit Nusantara‘Pendidikan & Kemanusiaan dalam Sastra Lintas Budaya’(Kumpulan Esai Sastra)

Deskripsi Buku

Judul:
47 Ronin Tersenyum di Langit Nusantara
‘Pendidikan & Kemanusiaan dalam Sastra Lintas Budaya’
(Kumpulan Esai Sastra)

Ukuran Buku: 15,5 x 23 cm
Jumlah Halaman viii + 314

Penulis:
Albitar Septian S., Andi Widiono,
Anggoro Abiyyu Ristio Cahyo, Cicik Arista,
Danang Wijoyanto, Henry Trias Puguh Jatmiko,
Isnaeni Khurniya Falakhiya, Khoirul Muttaqin,
M. Iqbal Tawakkal, Ninik Mardiana, Rizky Abrian,
Sakrim, Sri Wahyuningsih, Yohan Susilo

Desain Sampul dan Tata Letak:
Fadhilla
Penerbit:
DELIMA, Surabaya
Cetakan Pertama, Mei 2026

 

Tentang buku ini

Judul buku ini, 47 Ronin Tersenyum di Langit Nusantara, bekerja sebagai metafora payung yang merangkum semangat tersebut. Kisah 47 Ronin dari Jepang merepresentasikan etika kesetiaan dan tanggung jawab moral, sementara “langit Nusantara” menandai ruang perjumpaan kebudayaan yang majemuk. Kata “tersenyum” memberi penekanan bahwa nilai-nilai kemanusiaan tidak selalu hadir dalam bentuk heroisme keras, melainkan juga dalam sikap empatik, dialogis, dan penuh penghormatan terhadap kehidupan. Judul ini menegaskan bahwa lintas budaya bukanlah benturan identitas, melainkan kemungkinan saling menyapa dalam horizon kemanusiaan. Esai-esai yang dihimpun dalam buku ini memperlihatkan bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di ruang kelas atau melalui perangkat kurikulum formal, tetapi juga tumbuh melalui perjumpaan pembaca dengan teks sastra yang menghadirkan pengalaman kemanusiaan secara jujur, reflektif, dan sering kali problematis. Pendidikan, dalam konteks ini, dipahami sebagai proses kesadaran—kesadaran akan diri, sesama, alam, dan kebudayaan.Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada keberanian penulis menghadirkan pembacaan sastra dalam konteks lintas budaya. Objek kajian yang diangkat tidak terbatas pada sastra Indonesia, tetapi juga mencakup sastra Jawa melalui tradisi wayang, sastra Cina, serta sastra Jepang yang direpresentasikan secara simbolik melalui kisah 47 Ronin. Keberagaman latar budaya ini tidak diposisikan untuk dibandingkan secara struktural atau teknis, melainkan dipertemukan sebagai tradisi yang sama-sama menyimpan nilai kemanusiaan. Empati, kesetiaan, solidaritas, toleransi, tanggung jawab moral, serta kesadaran ekologis hadir dalam idiom budaya yang berbeda, namun berbicara pada persoalan manusia yang serupa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *