Delima Terbaru

PEREMPUAN TIMOR LESTE DALAM BUDAYA, FILM, SASTRA, DAN AGAMA: SEBUAH KAJIAN ETNO-GENDER

Deskripsi Buku

Judul:
PEREMPUAN TIMOR LESTE
DALAM BUDAYA, FILM, SASTRA, DAN AGAMA: SEBUAH KAJIAN ETNO-GENDER

Ukuran Buku: 14,5 x 21 cm
Jumlah Halaman: vi + 122

Penulis:
Anas Ahmadi
Muhammad Turhan Yani
Hasan Subekti
Karwanto

Editor:
Nuria Reny Hariyati
Desain Sampul dan Tata Letak:
Fadhilla
Penerbit:
DELIMA, Surabaya

Cetakan pertama, Juni 2026

 

Tentang buku ini

 

Buku Perempuan Timor Leste: Dalam Budaya, Film,Sastra, dan Agama: Sebuah Kajian Etno-Gender, Film, Sastra, dan Agama ini ditulis dengan tujuan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang identitas perempuan Timor Leste melalui pendekatan interdisipliner yang memadukan kajian etno-gender dengan pemanfaatan Geographic Information System (GIS). Buku ini berupaya memetakan dinamika kehidupan perempuan dalam konteks budaya, representasi film, karya sastra, serta praktik keagamaan yang berkembang di masyarakat Timor Leste. Secara umum, buku ini memuat tiga bagian utama. Pertama, Perempuan Timor Leste dalam Karya Sastra. Kedua, Perempuan Timor Leste dalam Film. Terakhir, Perbandingan Perempuan Timor-Leste dan Nigeria dalam Film Perang.

Studi ini memiliki novelties sebagai berikut (1) merupakan studi interdispliner yang meng­integrasikan teknologi geographic information system (GIS) dan studi etno-gender untuk memetakan identitas perempuan Timor Leste; (2) merupakan studi yang inovatif dan masih jarang dilakukan studi lain dalam hal pemetaan identitas perempuan di Timor Leste dalam kaitannya dengan budaya, film, sastra, dan agama; (3) memvisualisasikan peta penyebaran kesetaraan gender yang dikaitkan dengan multi-etnis di Timor Leste.

Pendekatan “Etno-Gender” menjadi pisau analisis utama dalam buku ini. Konsep ini melampaui studi gender konvensional dengan cara mengintegrasikan variabel etnisitas ke dalam analisis relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan. Menurut Henrietta Moore (1994), identitas gender senantiasa dikonstruksi, direpresentasi, dan diinterpretasi dalam bingkai etnik-budaya tertentu. Dengan kata lain, menjadi perempuan di etnis Mambae tentu memiliki nuansa sosiologis yang berbeda dengan perempuan di etnis Makasae atau Tetum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *