
Deskripsi Buku
Judul Buku: Jejak Kiai Pejuang
dan Pendidik – Biografi K.h.m. Hasyim Latief
Ukuran Buku: 14,5 x 21 cm
Jumlah Halaman: xxiv + 340
Penulis: Mohammad Subhan
Editor: Drs. H. Choirul Anam
Desain dan layout: Alek Subairi
Penerbit: DELIMA
Kata Pengantar Penulis
Puji syukur alhamdulillah, penulisan buku profil K.H.M. Hasyim Latief ini akhirnya selesai. Tidak lain, semua atas pertolongan Allah SWT. Tanpa itu, tentu saya tidak bisa berbuat apa-apa di dunia ini.
Sejak awal proses penulisan buku ini saya banyak mengucap syukur. Pertama, saya yang diberi amanat, itu saja sudah saya syukuri. Sebab K.H.M. Hasyim Latief ini tokoh yang hebat. Memiliki kemampuan hampir di semua bidang. Kesetiaan, kedisiplinan, kewibawaan, ketelitian, sabar, pekerja keras, sederhana, bisa diterima oleh semua pihak, memiliki prestasi dan meninggalkan prasasti, ekonomi keluarganya tercukupi, dan seterusnya. Beliau produk pesantren salaf tapi terus menempa diri sehingga menjadi sosok yang lengkap. Ilmu pesantren ada, akidah jelas, penguasaan ilmu pendukung mumpuni, mau menjadi pelayan umat, memiliki skill yang tidak dimiliki oleh orang lain, dan karyanya nyata. Sampai pada kesimpulan akhir bahwa beliau adalah figur yang bisa dijadikan panutan untuk umat dari masa ke masa.
Alhamdulillah, saya sempat menjadi khadam di PWNU Jawa Timur sejak tahun 1997 hingga Desember 2021. Lumayan, 24 tahun. Sedikit banyak telah memberi pengetahuan pada saya tentang para tokoh NU, baik di tingkat Wilayah maupun Pengurus Besar. Termasuk sosok K.H.M. Hasyim Latief ini yang memiliki rasa sedikit berbeda dengan tokoh yang lain. Biasanya, ketika dimunculkan kisah kehebatan seorang tokoh, lalu tanpa sengaja di lain waktu akan terdengar kelemahannya. Meski itu masih dalam batas manusiawi, namun bagi saya masih saja dapat mengurangi nilai kebaikan tokoh tersebut. Kadang malah tanpa sengaja saya tahu siapa saja pesaingnya.
Berbeda dengan nama K.H.M. Hasyim Latief. Sejak lama saya sudah mendengar nama baiknya. Terutama ketika menjadi Ketua LP Ma’arif NU Jawa Timur di akhir tahun 1970-an. Namanya begitu harum dan dipuja-puja para mantan anak buahnya yang tetap setia di LP Ma’arif NU Jawa Timur hingga sekarang. Kalau sudah bercerita tentang beliau yang berkaitan dengan LP Ma’arif NU Jawa Timur rasanya sundul langit, sangat sempurna. Mulai dari kerapian pakaian, kedisiplinan waktu, tertib administrasi, terobosan-terobosan pendanaan, hingga kewibawaannya. Kantor LP Ma’arif pun menjadi hidup 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan, dan 12 bulan dalam setahun. Non stop setahun penuh. Sebab selain ada full timer yang tinggal di kantor, juga ada beberapa pengurus dari luar kota yang suka menginap 3-4 hari untuk menyelesaikan pekerjaan. Berkat intensitas pertemuan antar pengurus yang sangat sering itulah menjadikan pola pikir mereka sama. Berkat pemikiran yang sudah sama itu pula menjadikan mereka mudah melangkah bersama karena sudah saling percaya dan senasib sepenanggungan.
Tidak heran kala itu LP Ma’arif menjadi tulang punggung PWNU Jawa Timur. Ma’arif-lah yang banyak membantu biaya operasional Kantor PWNU. Mulai dari pembayaran rekening listrik, air, telepon, langganan koran, sampai urusan menjamu bila ada tamu dari Jakarta. Tidak hanya itu, setiap sore hari saluran telepon PWNU dipindahkan ke Kantor Ma’arif. Sebab pengurus NU sudah banyak yang pulang, sedangkan Kantor Ma’arif selalu ada orang.
Begitulah para pengurus lama di Kantor LP Ma’arif NU Jawa Timur saat ini kalau sudah bercerita tentang beliau. Lengkap, tuntas, dan detil. Tidak heran kalau nama K.H.M. Hasyim Latief saat ini diabadikan sebagai nama hall di lantai empat Kantor PW LP Ma’arif NU Jawa Timur.
Bukan itu saja. Nama K.H.M. Hasyim Latief juga memiliki kharisma yang tinggi. Sebagai contoh, di antara pengurus di PWNU yang juga memiliki nama harum hingga sekarang adalah K.H. Imron Hamzah. Bila pengurus atau aktivis yang hidup sezaman bercerita tentang beliau rata-rata disertai dengan pujian-pujian yang luar biasa. Nah, ternyata, Kiai Imron masih menaruh sungkan terhadap Kiai Hasyim Latief. Tentu orang lalu berpikir: sampai seberapa besar wibawa K.H.M. Hasyim Latief?
Kedua, saya ingin berkarya secara maksimal. Sebisa mungkin buku ini nanti menarik, dibaca orang, dan menjadi rujukan. Untuk itu saya berusaha mencari editor sekaligus pembimbing yang paling tahu tentang sejarah NU, terutama di Jawa Timur. Tidak butuh waktu lama, langsung saja muncul nama Drs. H. Choirul Anam (Cak Anam). Sebab sampai saat ini rasanya belum ada penulis NU yang melebihi Cak Anam. Buku berjudul Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama yang diangkat dari skripsinya di IAIN Sunan Ampel tahun 1985 itu masih menempati peringkat pertama sebagai rujukan bila ada orang ingin menulis tentang sejarah NU.
Lagi-lagi alhamdulillah, saat beliau saya minta menjadi editor dan pembimbing penulisan buku ini, beliau langsung menyatakan kesediaannya. Apalagi nama K.H.M. Hasyim Latief juga memiliki ikatan batin tersendiri bagi beliau. Selain buku legendaris karya beliau tersebut diberi kata pengantar oleh K.H.M. Hasyim Latief atas nama Ketua PWNU Jawa Timur, K.H.M. Hasyim Latief juga sangat memperhatikan Cak Anam. Setiap ada peristiwa penting yang berkaitan dengan NU di kediaman beliau, Cak Anam dan Pak Ali Haidar selalu diundang untuk hadir. Walhasil, buku ini telah dikoreksi oleh Cak Anam.
Ketiga, K.H.M. Hasyim latief juga memiliki keponakan sang Kiai Mbeling alias Mohammad Ainun Najib alias Cak Nun alias Mbah Nun. Tentu dia tidak akan keberatan kalau diminta memberikan kata pengantar untuk buku tentang pamannya. Kata pengantar dari Cak Nun bernilai penting. Selain memiliki nilai tinggi di dunia perbukuan, sekaligus sebagai korektor bila dalam buku ada tulisan yang salah. Alhamdulillah, Cak Nun –insyaallah—tidak keberatan memenuhi permintaan itu.
Menulis sejarah tokoh yang dikagumi adalah sesuatu yang menyenangkan. Apalagi tokoh tersebut sudah wafat. Pikiran dan imajinasi dapat terbang melanglang buana ke masa lalu seakan turut hadir bersama tokoh tersebut pada masa itu. Lalu dari sana ditemukan cerita dan pelajaran yang dapat dipetik untuk masa kini.
Begitu pula yang saya rasakan selama penulisan buku ini. Saya jadi merasa dekat dengan K.H.M. Hasyim Latief, meskipun hanya sekali bertemu dengan beliau. Saya mulai sering datang ke PWNU tahun 1997, sedangkan beliau sudah menjadi pengurus PBNU sejak tahun 1984. Mesk demikian dalam proses penulisan buku ini saya merasa dekat dengan beliau.
Terima kasih sangat saya ucapkan kepada teman-teman sesama pencinta sejarah NU yang turut membantu penulisan buku ini. Ada Mas Ayuhanafiq (Yohan) Mojokerto, Mas Faishol dan Mas Mukani Jombang, juga para pecinta dan pengagum K.H.M. Hasyim Latief di mana pun mereka berada. Tak lupa ada Pak Mutik dan Pak Mushoddaq –adik dari K.H.M. Hasyim Latief—serta para keponakan dan para putra-putri beliau. Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih atas bantuan tersebut. Jazakumullahu khairan. Amiin.
Maksud hati ingin menghadirkan karya terbaik yang dapat memberikan manfaat untuk semua. Ikhtiar juga sudah saya lakukan secara maksimal. Namun apa daya manusia tetap memiliki keterbatasan. Apalagi saya yang memiliki kemampuan sangat terbatas.
Menunggu karya menjadi sempurna tentu tidak akan pernah tercapai. Sebab dunia ini bukan tempat untuk mencapai kesempurnaan. Justru kemungkinan terbesarnya karya itu akan terbengkalai di tengah jalan.
Akhirnya dengan penuh kerendahan hati saya persembahkan buku ini. Semoga dapat memberikan sumbangsih yang bermanfaat dalam menambah literasi dan penguatan sejarah anak bangsa.
Tidak ada gading yang tak retak, tidak ada karya yang sempurna. Begitu pula dengan buku ini. Fasinsyaallah, semoga nanti akan ada perbaikan-perbaikan di masa mendatang, bila memungkinkan. Saran dan masukan dapat disampaikan melalui email subhanaula@gmail.com atau nomor telepon 08155155064.
Akhirnya, rasa syukurlah yang saya panjatkan kehadirat Allah SWT. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillahirabbil alamiin.
Sidoarjo, Januari 2023
Mohammad Subhan
