Delima Terbaru

Kutut Golek Kurungan(Kumpulan Crita Seprapat Kaca) oleh Widodo Basuki

Deskripsi Buku

Judul:
Kutut Golek Kurungan
(Kumpulan Crita Seprapat Kaca)

Penulis:
Widodo Basuki

Ukuran Buku:14 x 21 cm
Jumlah Halaman: viii+98

Penata letak/Desain sampul:
Fadhilla
Gambar Sampul:
Widodo Basuki
Ilustrasi:
Drawing Widodo Basuki
Penerbit:
Delima, Surabaya
Cetakan pertama: Mei 2026

 

Tentang buku ini

Cerita fiksi mini yang bentuknya sangat pendek atau di sini disebut ‘cerita seperempat halaman’ atau Crita Seprapat Kaca, sebenarnya untuk sastra Jawa juga sudah ada sejak tahun 70-an, jika tidak salah, pernah ada rubrik seperti di majalah bahasa Jawa Jaya Baya dan Panjebar Semangat. Disebut Crita Seprapat Kaca waktu itu, karena dari pendeknya kemudian dimuat di majalah bentuknya hanya seperempat halaman. Oleh karena itu ada yang menyebutnya cerita seperempat halaman. Namun pembaca tidak kehilangan alur cerita, dan di malah banyak yang mengejutkan pembaca. Fiksi mini juga dikenal di masyarakat dunia sebelum ada istilah seperti sekarang, jenis karya sastra ini mulai dikenal dengan munculnya tulisan Hemingway tahun 1920, selain itu masyarakat lebih mengenal cerita-cerita sufi dari Nasrudin Hoja dan Abu Nawas, meski sebelumnya belum dikenal dengan istilah fiksi mini. Cerita yang terkumpul dalam Kutut Golek Kurungan ini, banyak di antaranya sebelumnya sudah tayang di media sosial. Memang, di dunia sastra Jawa karena bentuknya yang sangat pendek dibanding cerita pendek apa yang disebut fiksi mini ini kurang populer jika dibandingkan cerita pendek sendiri atau novel, roman apalagi puisi. Sedangkan isi cerita-cerita yang terkumpul dalam kumpulan cerita Kutut Golek Kurungan ini merupakan imajinasi penulis saat bersentuhan di masyarakat. Ada imajinasi yang terkadang membimbing ke hal-hal yang “dalam” meskipun sebenarnya yang dibahas hanyalah perkara sepele. Ini juga merupakan catatan-catatan sosial yang ikut serta, terkadang bisa berupa cerita yang isinya pengalaman hidup yang pahit dan menyenangkan, terkadang berupa nasihat atau bahkan mengolok-olok nasib hidup yang harus dijalani. Semoga jenis cerita fiksi mini ini bisa diterima dengan hati yang tulus dan menambah khazanah sastra di dunia masyarakat sastra Jawa.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *