Deskripsi Buku
Judul: Silang Sengkarut Dramaturgi (Reproduksi Pengetahuan “Koreografi Sosial” dalam Festival Teater Jakarta Timur 2025)
Ukuran Buku: 14,5 x 21 cm
Jumlah Halaman: xii + 294
Penulis: Hoirul Hafifi
Editor: Adiyanto
Desain Sampul dan Tata Letak: Fadhilla
Penerbit: Delima, Surabaya
Cetakan Pertama, Mei 2026
Tentang buku ini
Kumpulan esai ini, merupakan cara untuk menanggapi performativitas ideologis koreografi di ranah sosial, tanpa harus memosisikan teori sebagai kemutlakan, tetapi lebih sebagai dasar pemikiran atau sumber, di mana pengalaman ini diharapkan dapat menemukan estetika yang berbeda dari kesadaran silang sengkarut ini. Silang Sengkarut Dramaturgi; adalah refleksi kritis dalam memahami dan mengetahui tentang dramaturgi, dimulai dari berbagai kesalahpahaman, kesalahan, dan ketidaktahuan tentang dramaturgi secara komprehensif dan holistik, yang sebenarnya merupakan sesuatu berharga dalam ilmu pengetahuan. Merujuk pada pemikiran Andrew Hewitt “produksi dan presentasi tatanan sosial”—yang dapat dijadikan “estetika” tertentu dalam perkembangan teater di masa depan. Silang sengkarut ini juga dapat menjadi tempat pertemuan bagi produksi material dan reproduksi pengetahuan yang dapat bergeser untuk melatih ulang tatanan kita dalam ranah estetika. Hewitt merujuk pada tulisan Kracauer tentang tatanan sosial, hal itu memungkinkan koreografi sebagai metode kritis tersebut yang diambil dari “gerakan sehari-hari” yang bisa bersumbangsih pada performativitas dan representasi dari sebuah kelompok masyarakat teater.Nilai-nilai kreatif dan emosional sering berkelindan pada kinestetik masyarakat teater untuk terus mendukung efektivitas ideologis maupun transhistoris dalam rangkaian sebuah Festival Teater. Realitas kontemporer dengan silang sengkarut kerja dramaturgi, sebagian mewujudkan pemahaman performatif tentang tubuh sebagai festival itu sendiri—dalam konteks tatanan sosial yang terus berkembang, yang materialitasnya, melalui aktivitasnya, tidak dapat disangkal dan tidak dapat ditentukan oleh “determinan sosial” seperti masyarakat teater, etnis, gender, dan kelas. Silang sengkarut ini pun bisa dipahami sebagai persimpangan kompleks, menunjukkan bahwa kita tidak lagi berada dalam tekstualitas, tetapi dalam pengalaman sosial: antara tubuh sebagai subjek dalam kaitannya dengan subjek lain yang ‘tumpang tindih’ melalui media sosial; alegori tentang perwujudan yang menganggap siapapun berharga dalam sebuah praktik budaya.

